Monday, 16 September 2019

Perlawanan Angkatan Udara RI terhadap Agresi Militer Belanda I



Kemenangan dan Duka
Kisah Heroik Perlawanan Angkatan Udara RI terhadap Agresi Militer Belanda I

Oleh :
Akhir Yuliana Setianingrum
 


Pasca pernyatakan proklamasi kemerdekaan, Belanda belum mau mengakui adanya Bangsa Indonesia sebagai negara baru yang berdaulat. Perjanjian dan perundingan terus dilakukan demi terwujudknya kesepakatan anatara kedua belah pihak. Indonesia sadar bahwa dengan kondisinya saat ini belum mampu melawan Belanda bila terjadi pertempuran secara militer. Maka pada 11-13 November 1947 dilaksanakanlah perundingan Liggarjati. Meskipun sempat terjadi pro-kontra namun akhirnya perjanjian tersebut dapat membuahkan hasil. Isi dari perjanjian Linggarjati baru disahkan pada 25 Maret 1947.
Van Mook merupakan perwakilan Belanda dalam Perjanjian Linggarjati, yang pada 15 Juli 1947 mengeluarkan ultimatum agar RI menarik mundur pasukan sejauh 10 kilometer dari garis demarkasi yang telah disepakati (Abdul Haris Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, 1991:439). Tentu saja pemerintah RI menolak permintaan tersebut, yang berujung pada pernyataan van Mook bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan perjanjian Linggarjati. Pernyataan tersebut diikuti dengan penyerbuan oleh pasukan Belanda terhadap wilayah-wilayah Republik Indonesia yang terpusat di Jawa melalui udara.
Serangan ini merupakan aksi polisionil pertama Belanda sejak kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Penjajah yang kembali datang ke Nusantara itu melancarkan aksi brutalnya: Agresi Militer Belanda I[1]. Operasi udara Belanda bertujuan untuk melumpuhkan pusat pertahanan udara Republik Indonesia di Maguwo, maupun di berbagai kota dan medan pertempuran.
Peristiwa itu telah meningkatkan semangat perjuangan rakyat untuk melawan Belanda bersama-sama dengan Angkatan Perang Indonesia. Baik di darat, laut dan udara berupaya melancarkan serangan dengan taktik militer. Meskipun Angkata Udara masih tergolong muda namun juga mampu melaksanakan serangan udara dan cukup menggentarkan pihak musuh.
Para penerbang muda yang masih menjalani pendidikan dengan pangkat Kadet Udara menjadi inisiator serangan balas dendam atas penyerangan terhadap pangkalan udara Republik Indonesia. Mereka antara lain, Bambang Saptoadji,Suharnoko Harbani, Sutardjo Sigit, dan Mulyono (Subdisjarah Diswatapersau, Sejarah TNI Angkatan Udara Jilid I 1945-1949, 2004 : 125). Sebelum rencana ini disampaikan kepada KSAU, merka membicarakannya dengan Halim Perdanakusuma yang tinggal bersama para pemuda ini di hotel toegoe. Kesepakatan menunjuk Suharmoko Harbani menjadi wakil untuk menyampaikan gagasan ini pada KSAU Suryadi Suryadarma. KSAU tidak memberikan izin kepada para kadet yang dianggapnya masih belum menyelesaikan pendidikan dan itu mungkin akan membahayakan mereka sendiri. Namun dengan berani Suharmok berani membantah dan meyakinkan KSAU. Suryadi Suryadarma tidak memberikan keputusan apa-apa hanya mengatakan, “Saya tidak memerintahkan tapi saya juga tidak melarang.” (Subdisjarah Diswatapersau, Peristiwa Heroik 29 Juli 1947, 2009 : 69)
Serangan Heorik ini dilaksanakan pada 29 juli 1947 pukul 05.00 saat Yogyakarta masih diselimuti kabut pagi. Sasaran penyerangan adalah tiga titik yang dianggap sebagai basis kekuatan militer Belanda, yaitu Semarang, Ambarawa dan Salatiga. Kadet Penerbang Mulyono melaksanakan operasi udara atas kota Semarang sebagai sasaran urutan pertama menggunakan pesawat jenis Guntai. Disusul oleh Kadet Penerbang Soetardjo Sigit menggunakan Pesawat Cureng dengan sasaran di Salatiga.  Sebenarnya rencana awal akan menggunakan dua Pesawat Cureng untuk menyerang Salatiga. Namun Kadet Penerbang Suharnoko Harbani yang bertindak sebagai “Wing Man” gagal mengikuti laju pesawat Cureng yang dikendarai Soetardjo Sigit yang betindak sebagai “Flight Leader” dikarenakan kurangnya pencahayaan. Meskipun gagal mencapai titik seharusnya, Kadet Soeharmoko berhasil menyerang Ambarawa yang juga sudah dikuasai Musuh.
Aksi penyerangan ini secara militer tidak memberikan hasil yang menakjubkan, kerena memang sadar bahwa dengan kondisi perlengkapan dan kemampuan para kadet tidak mungkin untuk menghancurkan musuh secara keseluruhan. Secara mental, aksi ini jelas sangat memporak-porandakan mental musuh. Pengejaran terhadap pesawat dan pelaku pengeboman dilakukan oleh Belanda dengan menggunakan dua Pesawat P-40 Kitty Hawk. Beruntung, setelah landing para kadet tersebut langsung menyembunyikan Pesawat Cureng dan Guntai dengan dedaunan sehingga tidak dapat ditemukan musuh.
Belanda yang menganggap bahwa Angkatan Udara Indonesia sudah tidak berdaya merasa geram dan malu atas pengeboman yang dilakukan oleh Kadet Udara Indonesia. Hal ini terbukti dengan tidak dipedulikannya lagi norma-norma perang oleh pihal Belanda. Kebetulan pada saat yang bersamaan sedang melintas pesawat Dakota VT-CLA[2] untuk membawa bantuan obat-obatan dari PMI Malaya untuk PMI Indonesia. Karena sifat kejam yang dimiliki Belanda tanpa pikir panjang Pesawat Dakota VT-CLA yang di piloti oleh Alexander Noel Constantine dibantu oleh Co pilot Roy Hazelhurts diserang dua Pesawat P-40 Kitty Hawk.
Pesawat VT-CLA di awaki oleh 9 orang, 8 orang gugur dalam peristiwa itu dan 1 orang selamat yaitu Abdulgani Handonotjokro. Kedelapan awak yang gugur antara lain, Komodor Udara A. Adisucipto, Komodor Muda Udara Prof Dr. Abdulrchman Saleh, Opsir Muda Udara Adi Sumarmo Wirjokusumo, Ny. A. Contantine, Zainal Arifin konsul dagang Republik Indonesia di Malaya dan dua pilot Dakota VT-CLA dari Autralia.
Pada hari itu Indonesia telah mengalami dua kejadian bersejarah sekaligus, dimana pada dini hari telah berhasil melakukan sernagan udara pertama yang membuat Indonesia bangkit dan bersemangta melawan Belanda, namun sore harinya peristiwa duka menyelimuti Indonesia khususnya Angkatan Udara karena kehilangan petinggi dan tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan Angkatan Udara Republik Indonesia. Maka setiap tanggsl 29 Juli diperingati sebagai Hari Bakti TNI AU. Untuk mengenang peristiwa itu dibangun Monumen Perjuangan TNI AU di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta. Disana juga dimakamkan tokoh nasional yang gugur dan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, yaitu Agustinus Adisucitpo dan Dr. Abdulrahman Saleh berserta istrinya. Sedangkan Adisumarmo dimakamkan di TMP Kusumanegara dekar dengan Jenderal Soedirman, namun beliau belum dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.
-Pev



[1] Penyebutan di Kemudian hari untuk menandai peristiwa serangan Belanda pasca kemerdekaan RI. Pada tahun 1948 terjadi serangan Belanda yang kedua. Sehingga untuk membedakannya disebut dengan AMB I dan AMB II
[2] Pesawat militer India yang sedang di Charter oleh Indonesia melalui Jawaharlal Nehru yang pada saat itu dekat dengan Presiden Soekarno

Senjata Gun M61 A1 Vulcan dikirim ke Yogyakarta



Kolonel Sus Drs. Dede Nasrudin : “Senjata Gun M61 A1 Vulcan akan Menjadi Koleksi Museum Dirgantara Mandala dan dipamerkan untuk Umum”

MUSPUSDIRLA. Minggu (15/09/2019) Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala menerima penyerahan Senjata Gun M61 A1 Vulcan dari Depohar 60 Lanud Iswahyudi Madiun. Kolonel Sus Drs. Dede Nasrudin selaku Kepala Muspusdirla menerima secara langsung penyerahan senjata tersebut dari perwakilan Depohar 60 yang bertempat di Gedung Budiharjo. 

Dalam sambutannya kamuspusdirla mengucapkan terimakasih kepada Depohar 60 dan para pimpinan karena telah memberikan kepercayaan kepada Muspusdirla menjadi rumah bagi senjata yang sangat bernilai sejarah ini.

Senjata asal Amerika Serikat ini dibuat pada tahun 1950 dengan tipe M61 A1 Vulcan dan menjadi perlengkapan persenjataan yang dimiliki pesawat F16.  Beliau menyapaikan bahwa senjata tersebut akan menjadi koleksi Museum Dirgantara Mandala dan akan dipajang untuk dinikmati oleh pengunjung Museum. 

Keberadaan Senjata Gun M61 A1 Vulcan akan dimanfaatkan dengan baik sebagai wahana rekreasi, pendidikan, dan penelitian khususnya untuk menunjang perkembangan TNI Angakatan Udara. Nilai sejarah yang dimiliki senjata tersebut patut diketahui oleh generasi muda agar menjadi refleksi bagaimana para pendahulu berjuang untuk mempertahankan Negara Indonesia.

 Gambar : Foto Senjata Gun M61 A1 Vulcan

Demi terjaganya koleksi baru tersebut hal-hal yang berkaitan dengan perawatan harus benar-benar diperhatikan secara serius. Penambahan koleksi Senjata M61 A1 Vulcan ini diharapkan juga bisa menambah daya tarik wisatawan untuk megunjungi dan belajar tentang sejarah khsususnya Angkatan Udara melalui Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. -Pev

DESKRIPSI SENJATA

Tipe                                        : M61 A1 Vulcan
Negara Asal                           : United States
Produsen                                 : General Electric
Pembuatan Tahun                   : 1950
Berat feed system                   : 293 Pound/ 147Kg
Berat Ammo                           : 287 Pounds / 112,5 kg
Berat Total                              : 832 Pounds / 377 Kg
Panjang                                   : 71,9 inc / 1827 mm
Peluru                                      : 20 x 102 mm
Kaliber                                     : 20 mm / 0,787 inc
Laras                                        : 6 Laras / Barrel
Jumlah Ammo                         : 510 Butir
Jenis Peluru                             : M50 Series
Mekanisme                              : Sistem operasi Hydrolic 1800 psi dan electric 250 VCD
Posisi Tembakan                     : Arah jam 11 searah A/C
Rata-rata Tembakan                : 6000 tembakan per menit / 100 tembakan per detik
Percepatan Awal                     : 0,4 detik
Perlambatan                            : 0,45 detik
Pemakaian                               : Abad ke-19