Kemenangan dan Duka
Kisah Heroik Perlawanan Angkatan Udara RI terhadap
Agresi Militer Belanda I
Oleh :
Akhir Yuliana Setianingrum
Pasca
pernyatakan proklamasi kemerdekaan, Belanda belum mau mengakui adanya Bangsa
Indonesia sebagai negara baru yang berdaulat. Perjanjian dan perundingan terus
dilakukan demi terwujudknya kesepakatan anatara kedua belah pihak. Indonesia
sadar bahwa dengan kondisinya saat ini belum mampu melawan Belanda bila terjadi
pertempuran secara militer. Maka pada 11-13 November 1947 dilaksanakanlah
perundingan Liggarjati. Meskipun sempat terjadi pro-kontra namun akhirnya
perjanjian tersebut dapat membuahkan hasil. Isi dari perjanjian Linggarjati
baru disahkan pada 25 Maret 1947.
Van
Mook merupakan perwakilan Belanda dalam Perjanjian Linggarjati, yang pada 15
Juli 1947 mengeluarkan ultimatum agar RI menarik mundur pasukan sejauh 10
kilometer dari garis demarkasi yang telah disepakati (Abdul Haris Nasution, Sekitar
Perang Kemerdekaan Indonesia, 1991:439). Tentu saja pemerintah RI menolak
permintaan tersebut, yang berujung pada pernyataan van Mook bahwa Belanda tidak
lagi terikat dengan perjanjian Linggarjati. Pernyataan tersebut diikuti dengan
penyerbuan oleh pasukan Belanda terhadap wilayah-wilayah Republik Indonesia
yang terpusat di Jawa melalui udara.
Serangan
ini merupakan aksi polisionil pertama Belanda sejak kemerdekaan RI 17 Agustus
1945. Penjajah yang kembali datang ke Nusantara itu melancarkan aksi brutalnya:
Agresi Militer Belanda I[1].
Operasi udara Belanda bertujuan untuk melumpuhkan pusat pertahanan udara
Republik Indonesia di Maguwo, maupun di berbagai kota dan medan pertempuran.
Peristiwa
itu telah meningkatkan semangat perjuangan rakyat untuk melawan Belanda
bersama-sama dengan Angkatan Perang Indonesia. Baik di darat, laut dan udara
berupaya melancarkan serangan dengan taktik militer. Meskipun Angkata Udara
masih tergolong muda namun juga mampu melaksanakan serangan udara dan cukup
menggentarkan pihak musuh.
Para
penerbang muda yang masih menjalani pendidikan dengan pangkat Kadet Udara
menjadi inisiator serangan balas dendam atas penyerangan terhadap pangkalan
udara Republik Indonesia. Mereka antara lain, Bambang Saptoadji,Suharnoko
Harbani, Sutardjo Sigit, dan Mulyono (Subdisjarah Diswatapersau, Sejarah TNI
Angkatan Udara Jilid I 1945-1949, 2004 : 125). Sebelum rencana ini disampaikan
kepada KSAU, merka membicarakannya dengan Halim Perdanakusuma yang tinggal
bersama para pemuda ini di hotel toegoe. Kesepakatan menunjuk Suharmoko Harbani
menjadi wakil untuk menyampaikan gagasan ini pada KSAU Suryadi Suryadarma. KSAU
tidak memberikan izin kepada para kadet yang dianggapnya masih belum
menyelesaikan pendidikan dan itu mungkin akan membahayakan mereka sendiri.
Namun dengan berani Suharmok berani membantah dan meyakinkan KSAU. Suryadi Suryadarma
tidak memberikan keputusan apa-apa hanya mengatakan, “Saya tidak memerintahkan
tapi saya juga tidak melarang.” (Subdisjarah Diswatapersau, Peristiwa Heroik 29
Juli 1947, 2009 : 69)
Serangan
Heorik ini dilaksanakan pada 29 juli 1947 pukul 05.00 saat Yogyakarta masih
diselimuti kabut pagi. Sasaran penyerangan adalah tiga titik yang dianggap
sebagai basis kekuatan militer Belanda, yaitu Semarang, Ambarawa dan Salatiga.
Kadet Penerbang Mulyono melaksanakan operasi udara atas kota Semarang sebagai
sasaran urutan pertama menggunakan pesawat jenis Guntai. Disusul oleh Kadet
Penerbang Soetardjo Sigit menggunakan Pesawat Cureng dengan sasaran di
Salatiga. Sebenarnya rencana awal akan
menggunakan dua Pesawat Cureng untuk menyerang Salatiga. Namun Kadet Penerbang
Suharnoko Harbani yang bertindak sebagai “Wing Man” gagal mengikuti laju
pesawat Cureng yang dikendarai Soetardjo Sigit yang betindak sebagai “Flight
Leader” dikarenakan kurangnya pencahayaan. Meskipun gagal mencapai titik
seharusnya, Kadet Soeharmoko berhasil menyerang Ambarawa yang juga sudah
dikuasai Musuh.
Aksi
penyerangan ini secara militer tidak memberikan hasil yang menakjubkan, kerena
memang sadar bahwa dengan kondisi perlengkapan dan kemampuan para kadet tidak
mungkin untuk menghancurkan musuh secara keseluruhan. Secara mental, aksi ini
jelas sangat memporak-porandakan mental musuh. Pengejaran terhadap pesawat dan
pelaku pengeboman dilakukan oleh Belanda dengan menggunakan dua Pesawat P-40
Kitty Hawk. Beruntung, setelah landing para kadet tersebut langsung
menyembunyikan Pesawat Cureng dan Guntai dengan dedaunan sehingga tidak dapat
ditemukan musuh.
Belanda
yang menganggap bahwa Angkatan Udara Indonesia sudah tidak berdaya merasa geram
dan malu atas pengeboman yang dilakukan oleh Kadet Udara Indonesia. Hal ini
terbukti dengan tidak dipedulikannya lagi norma-norma perang oleh pihal
Belanda. Kebetulan pada saat yang bersamaan sedang melintas pesawat Dakota
VT-CLA[2]
untuk membawa bantuan obat-obatan dari PMI Malaya untuk PMI Indonesia. Karena
sifat kejam yang dimiliki Belanda tanpa pikir panjang Pesawat Dakota VT-CLA
yang di piloti oleh Alexander Noel Constantine dibantu oleh Co pilot Roy
Hazelhurts diserang dua Pesawat P-40 Kitty Hawk.
Pesawat
VT-CLA di awaki oleh 9 orang, 8 orang gugur dalam peristiwa itu dan 1 orang
selamat yaitu Abdulgani Handonotjokro. Kedelapan
awak yang gugur antara lain, Komodor
Udara A. Adisucipto, Komodor Muda Udara Prof Dr. Abdulrchman Saleh, Opsir Muda
Udara Adi Sumarmo Wirjokusumo, Ny. A. Contantine, Zainal Arifin konsul dagang
Republik Indonesia di Malaya dan dua pilot Dakota VT-CLA dari Autralia.
Pada
hari itu Indonesia telah mengalami dua kejadian bersejarah sekaligus, dimana
pada dini hari telah berhasil melakukan sernagan udara pertama yang membuat
Indonesia bangkit dan bersemangta melawan Belanda, namun sore harinya peristiwa
duka menyelimuti Indonesia khususnya Angkatan Udara karena kehilangan petinggi
dan tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan Angkatan Udara Republik
Indonesia. Maka setiap tanggsl 29 Juli diperingati sebagai Hari Bakti TNI AU.
Untuk mengenang peristiwa itu dibangun Monumen Perjuangan TNI AU di Desa Ngoto,
Bantul, Yogyakarta. Disana juga dimakamkan tokoh nasional yang gugur dan
dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, yaitu Agustinus Adisucitpo dan Dr.
Abdulrahman Saleh berserta istrinya. Sedangkan Adisumarmo dimakamkan di TMP
Kusumanegara dekar dengan Jenderal Soedirman, namun beliau belum dinobatkan
sebagai Pahlawan Nasional.
-Pev
[1] Penyebutan di Kemudian
hari untuk menandai peristiwa serangan Belanda pasca kemerdekaan RI. Pada tahun
1948 terjadi serangan Belanda yang kedua. Sehingga untuk membedakannya disebut
dengan AMB I dan AMB II
[2] Pesawat militer India yang
sedang di Charter oleh Indonesia melalui Jawaharlal Nehru yang pada saat itu
dekat dengan Presiden Soekarno
