PERTEMPURAN LAUT ARAFURU
(Upaya Pembebasan Irian Barat)
Lebih
dari satu dasawarsa pasca pengakuan kedaulatan wilayah Indonesia oleh Belanda,
status Irian Barat masih menjadi sengketa atas keduanya. Belanda terus menolak
pengembalian Irian Barat kepada pangkuan Negara Indonesia. Alih-alih mengadakan
perundingan dari keberlanjutan atas hasil Konferensi Meja Bundar tahun 1949 pada
tahun 1951 Belanda justu membentuk pemerintahan provinsi dan mempersiapkan
kemerdekaan wilayah tersebut dengan bantuan dari PBB.
Belanda
megusulkan agar masalah sengketa tersebut dibawa dan diselesaikan melalui
Mahkamah Internasional. Namun, Bangsa Indonesia menolak dengan tegas usulan
tersebut atas dasar wilayah Indonesia merupakan bekas jajahan Belanda sesuai
dengan Konferensi Pembentukan Negara-negara Merdeka pasca perag dunia II.
Indonesia
tidak tinggal diam menanggapi masalah tersebut. Prsiden Soekarno dengan tegas
menyerukan Trikora atau Tri Komando Rakyat dan menegaskan bahwa pembebasan
irian Barat akan dilakukan dengan cara konfrontasi. Menyusul diumkannya Tri
Komando Rakyat pada 19 Desember 1961, maka pada 2 Januari 1962 Presiden Sukarno
selaku Panglima Tertinggi APRI telah membentuk Komando Mandala dengan
tugas menyelenggarakan operasi-operasi militer merebut Irian Barat dan memimpin
segala macam pasukan bersenjata dan barisan perlawanan rakyat. Sehari kemudian
Panglima Kodam Militer XV Pattimura Letkol Boesiri dilantik menjadi Panglima
Komando Pembebasan irian Barat untuk daerah Maluku. Selanjutnya pada 10 Januari
1962 Mayor Jenderal Soeharto diangkat menjadi Panglima Komando Mandala.
Kepala
Staf Angkatan Laut, Laksamana R.E Martadinata kemudian membentuk satuan khusus
STC 9 dan menunjuk Letnan Kolonel Sudomo sebagai komandannya. ALRI mengerahkan
empat kapal perang jenis MTB dalam operasi infiltrasi(penyusupan) yang
bertujuan memasukan sejumlah pasukan gerilya ke bumi Cendrawasih, yaitu KRI
Matjan Tutul, KRI Matjan Kumbang, KRI Harimau dan KRI Singa. Kapal jenis MTB
ini belum dilengkapi dengan torpedo yang merupakan senjata utamanya dan belum
layak melaksaakan operasi dengan kemampuan jelajah yang hanya 700 mil laut.
Dengan kondisi yang demikian, Komodor Yos Sudarso menyatakan bahwa ALRI siap
melaksanakan operasi.
Perjalanan
sejauh 2000 mil dimulai dari pelabuhan Tanjung Priok menuju Pantai Merah
Kaimana dengan empat kapal MTB untuk menurunkan 100 personel Angkatan Darat ke
pantai lawan. Pada 9 Januari 1962 empat kapal tempur Indonesia bertolak dari
Tanjung Priok. Untuk menjaga kerahasian semua kapal menerapkan Radio Silence
dan mengisi bahan bakar di tiga titik kumpul yang berada di tengah laut (RV).
Dalam perjalanannya KRI Singa mengalami kerusakan sehingga tidak mampu
melanjutkan perjalanannya menuju RV III. Meskipun hanya menyisahkan tiga kapal,
operasi tetap dilaksanakan. Tanggal 15 Januari 1962 personel Angkatan Darat
yang dilengkapi persenjataan tempur melaksanakan embarkasi ke RI Multatuli.
Semnagat
prajurit semakin membara ketika dua petinggi TNI memutuskan untuk ikut serta
bersama mereka. Komodorr Yos Sudarso berada di RI Matjan Tutul dan Kolonel Infantri
Mursid di RI Harimau.
Saat
STC 9 sedang bergerak dalam kegelapan, radar KRI Matjan Kumbang menangkap
adanya keberadaan pesawat. Pesawat patroli Belanda berderu diatasnya dengan
menjatuhkan flare. Pelayaran rahasia itu telah ketahuan. Tembakan peringatan
pertama pun dilepaskan dan jatuh di dekat KRI Harimau, ada Kolonel Sudomo dan
sejumlah petinggi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) lainnya di atas kapal
itu.
Belanda
sudah menyiapkan tiga kapal yang lebih besar dari ketiga kapal RI. Sadar kalah
perlengkapan tempur, Komodor Yos Sudarso yang memimpin KRI Macan Tutul
memerintahkan ketiga kapal republik putar balik untuk mundur sementara. Belanda
yang menyangka gerakan itu adalah manuver untuk menyerang segera melepaskan tembakan
sebelum diserang lebih dulu. Selain peluru suar kapal Belanda juga menembakan
roket. Malangnya, mesin KRI Macan Tutul mendadak mati. Yos Sudarso berpikir
keras, harus ada kapal republik yang selamat. RI Macan Tutul lantas pasang
badan sebagai umpan, memberi peluang dua KRI lainnya meninggalkan medan laga.
KRI
Macan Tutul harus berhadapan dengan kapal perang Belanda HRMS Everston. Tembakan
pertama meleset. Namun, di kesempatan kedua, tembakan yang dilancarkan HRMS
Everston mengenai bagian tengah KRI Matjan Tutul sehingga terjadi ledakan.
Kapal buatan Jerman yang dibeli pada 1960 itu pun terbakar dan perlahan karam.
KRI Matjan Tutul tenggelam dengan gagah dan berani.
Pekik
“kobarkan semangat pertempuran!” melengking dari saluran radio di dua KRI
lainnya. Itu suara Yos Sudarso. Serangan pun berhenti, suasana kembali sunyi.
Pertempuran
Laut Arafuru yang terjadi pada tanggal 15 Januari 1962, merupakan peristiwa
heroik dalam sejarah Angkatan Laut kita yang ditunjukkan pelaut-pelaut kita di
bawah kepemimpinan Komodor Yos Sudarso. Demi mengenang kisah kepahlawanan yang
dilakukan oleh Komodor Yos Sudarso dan prajuritnya maka setiap tanggal 15
Januari diperingati sebagai Hari Dharma Samudra. Hal ini bertujuan untuk
mewariskan semangat perjuangan dalam membela NKRI.