Wednesday, 15 January 2020

Pertempuran Laut Arafuru (Hari Dharma Samudra)



PERTEMPURAN LAUT ARAFURU
(Upaya Pembebasan Irian Barat)

Lebih dari satu dasawarsa pasca pengakuan kedaulatan wilayah Indonesia oleh Belanda, status Irian Barat masih menjadi sengketa atas keduanya. Belanda terus menolak pengembalian Irian Barat kepada pangkuan Negara Indonesia. Alih-alih mengadakan perundingan dari keberlanjutan atas hasil Konferensi Meja Bundar tahun 1949 pada tahun 1951 Belanda justu membentuk pemerintahan provinsi dan mempersiapkan kemerdekaan wilayah tersebut dengan bantuan dari PBB.
Belanda megusulkan agar masalah sengketa tersebut dibawa dan diselesaikan melalui Mahkamah Internasional. Namun, Bangsa Indonesia menolak dengan tegas usulan tersebut atas dasar wilayah Indonesia merupakan bekas jajahan Belanda sesuai dengan Konferensi Pembentukan Negara-negara Merdeka pasca perag dunia II.
Indonesia tidak tinggal diam menanggapi masalah tersebut. Prsiden Soekarno dengan tegas menyerukan Trikora atau Tri Komando Rakyat dan menegaskan bahwa pembebasan irian Barat akan dilakukan dengan cara konfrontasi. Menyusul diumkannya Tri Komando Rakyat pada 19 Desember 1961, maka pada 2 Januari 1962 Presiden Sukarno selaku  Panglima Tertinggi APRI telah membentuk Komando Mandala dengan tugas menyelenggarakan operasi-operasi militer merebut Irian Barat dan memimpin segala macam pasukan bersenjata dan barisan perlawanan rakyat. Sehari kemudian Panglima Kodam Militer XV Pattimura Letkol Boesiri dilantik menjadi Panglima Komando Pembebasan irian Barat untuk daerah Maluku. Selanjutnya pada 10 Januari 1962 Mayor Jenderal Soeharto diangkat menjadi Panglima Komando Mandala.
Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana R.E Martadinata kemudian membentuk satuan khusus STC 9 dan menunjuk Letnan Kolonel Sudomo sebagai komandannya. ALRI mengerahkan empat kapal perang jenis MTB dalam operasi infiltrasi(penyusupan) yang bertujuan memasukan sejumlah pasukan gerilya ke bumi Cendrawasih, yaitu KRI Matjan Tutul, KRI Matjan Kumbang, KRI Harimau dan KRI Singa. Kapal jenis MTB ini belum dilengkapi dengan torpedo yang merupakan senjata utamanya dan belum layak melaksaakan operasi dengan kemampuan jelajah yang hanya 700 mil laut. Dengan kondisi yang demikian, Komodor Yos Sudarso menyatakan bahwa ALRI siap melaksanakan operasi.
Perjalanan sejauh 2000 mil dimulai dari pelabuhan Tanjung Priok menuju Pantai Merah Kaimana dengan empat kapal MTB untuk menurunkan 100 personel Angkatan Darat ke pantai lawan. Pada 9 Januari 1962 empat kapal tempur Indonesia bertolak dari Tanjung Priok. Untuk menjaga kerahasian semua kapal menerapkan Radio Silence dan mengisi bahan bakar di tiga titik kumpul yang berada di tengah laut (RV). Dalam perjalanannya KRI Singa mengalami kerusakan sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanannya menuju RV III. Meskipun hanya menyisahkan tiga kapal, operasi tetap dilaksanakan. Tanggal 15 Januari 1962 personel Angkatan Darat yang dilengkapi persenjataan tempur melaksanakan embarkasi ke RI Multatuli.
Semnagat prajurit semakin membara ketika dua petinggi TNI memutuskan untuk ikut serta bersama mereka. Komodorr Yos Sudarso berada di RI Matjan Tutul dan Kolonel Infantri Mursid di RI Harimau.
Saat STC 9 sedang bergerak dalam kegelapan, radar KRI Matjan Kumbang menangkap adanya keberadaan pesawat. Pesawat patroli Belanda berderu diatasnya dengan menjatuhkan flare. Pelayaran rahasia itu telah ketahuan. Tembakan peringatan pertama pun dilepaskan dan jatuh di dekat KRI Harimau, ada Kolonel Sudomo dan sejumlah petinggi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) lainnya di atas kapal itu.
Belanda sudah menyiapkan tiga kapal yang lebih besar dari ketiga kapal RI. Sadar kalah perlengkapan tempur, Komodor Yos Sudarso yang memimpin KRI Macan Tutul memerintahkan ketiga kapal republik putar balik untuk mundur sementara. Belanda yang menyangka gerakan itu adalah manuver untuk menyerang segera melepaskan tembakan sebelum diserang lebih dulu. Selain peluru suar kapal Belanda juga menembakan roket. Malangnya, mesin KRI Macan Tutul mendadak mati. Yos Sudarso berpikir keras, harus ada kapal republik yang selamat. RI Macan Tutul lantas pasang badan sebagai umpan, memberi peluang dua KRI lainnya meninggalkan medan laga.
KRI Macan Tutul harus berhadapan dengan kapal perang Belanda HRMS Everston. Tembakan pertama meleset. Namun, di kesempatan kedua, tembakan yang dilancarkan HRMS Everston mengenai bagian tengah KRI Matjan Tutul sehingga terjadi ledakan. Kapal buatan Jerman yang dibeli pada 1960 itu pun terbakar dan perlahan karam. KRI Matjan Tutul tenggelam dengan gagah dan berani.
Pekik “kobarkan semangat pertempuran!” melengking dari saluran radio di dua KRI lainnya. Itu suara Yos Sudarso. Serangan pun berhenti, suasana kembali sunyi.
Pertempuran Laut Arafuru yang terjadi pada tanggal 15 Januari 1962, merupakan peristiwa heroik dalam sejarah Angkatan Laut kita yang ditunjukkan pelaut-pelaut kita di bawah kepemimpinan Komodor Yos Sudarso. Demi mengenang kisah kepahlawanan yang dilakukan oleh Komodor Yos Sudarso dan prajuritnya maka setiap tanggal 15 Januari diperingati sebagai Hari Dharma Samudra. Hal ini bertujuan untuk mewariskan semangat perjuangan dalam membela NKRI.