Wednesday, 21 October 2020

HARI JADI KORPASKHAS TNI AU - Penerjun Payung Pertama

 

OPERASI LINTAS UDARA PERTAMA DI KALIMANTAN TAHUN 1947

 

Sejarah terbentuknya TNI Angkatan Udara bermula dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) hasil siding Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang ke tiga tanggal 23 Agustus 1945. BKR sebagai organisasi yeng menggantikan kedudukan tentara memiliki fungsi untuk menjaga ketertiban dan keamanan negara. Pembentukan BKR disesuaikan dengan tugas dan fungsinya di lapangan. Maka dikenal lah dengan BKR Udara, BKR Laut, BKR Kereta Api, BKR Pos, dan seterusnya.  Dibidang udara dikenal dengan adanya BKR Udara (BKRO). BKR Udara bertugas merebut pangkalan udara setempat dari tangan Jepang bersama unsur-unsur pejuang lainnya sehingga pembentukannya cenderung berada di daerah pangkalan atau pusat-pusat unsur penerbangan. Organisasi ini  berada di bawah KNI setempat sehingga masing-masing BKR Udara dapat berdiri sendiri.

Organisasi BKR ditingkatkan menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) seusai Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945. Sejajar dengan ditingkatkannya BKR menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) maka BKR Udara pun berubah menjadi TKR Udara atau lebih dikenal sebagai TKR Jawatan Penerbangan. Suryadi Suryadarma dan Sukarnen Martokusumo ditetapkan sebagai Kepala dan Wakil Kepala Bagian Penerbangan. Tanggungjawab dan wewenang atas pangkalan udara dan perlengkapannya, pegawai, dan prajurit ditempatkan di bawah kepala Bagian Penerbangan. Markas TKR Udara berada di Jalan Terban Taman Nomor 1 Yogyakarta, letaknya berseberangan dengan markas besar Tentara Keamanan Rakyat (MB TKR).

Sejak 23 Januari 1946 Tentara Kemanan Rakyat ditingkatkan menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia). Sejalan dengan perubahan nama tersebut, TKR Udara pun turut berganti nama menjadi TRI Udara atau TRI Jawatan Penerbangan. Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden No. 6/S.D./1946, tanggal 9 April 1946, TRI Jawatan Penerbangan dirubah lagi menjadi TRI Angkatan Udara yang kemudian disebut AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia)  berikut dengan tanda-tanda pangkat yang ditetapkan AURI.

Belanda melancarkan agresi militer yang pertama pada hari Minggu 21 Juli 1947 dengan melakukan pengeboman di beberapa daerah di Jawa dan Sumatera. Seluruh pangkalan militer terutama pangkalan udara yang terdapat pesawatnya tidak luput dari sasaran pemboman pesawat Belanda. Sebagai respon atas tindakan Belanda, AURI segera melancarkan aksi balasan berupa pengeboman terhadap tangsi-tangsi Belanda yang berkedudukan di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Serangan balasan dilakukan pada 29 Juli 1947 berhasil memporakporandakan kubu pertahanan dan menurunkan mental Belanda. Keberhasilan operasi serangan balasan ini sekaligus menjadi kegiatan pertama dari AURI.

Selain melakukan pemboman di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa, AURI juga melaksanakan beberapa operasi udara. Operasi udara itu antara lain melakukan Operasi Lintas Udara pada 17 Oktober 1947 di Kalimantan. Ir. P.M. Noor selaku Gubernur Kalimantan tidak berada di Kalimantan karena keadaan di Kalimantan masih berada di bawah kekuasaan Belanda.

Ir. Mohamad Noor segera menyusun rencana untuk membantu perjuangan rakyat Kalimantan melawan Belanda. Sebelumnya, dalam upaya membebaskan Kalimantan dari penjajahan telah dibentuk pasukan yang diberi nama MN 1001 yang dikomandani oleh Mayor Tjilik Riwut. Diskusi antara Gubernur Ir. P.M. Noor dan Komandan Tjilik Riwut menghasilkan kesimpulan bahwa satu-satunya jalan untuk mengirim pasukan bantuan ke Kalimantan ialah melalui jalur udara.

Gubernur Ir. P.M. Noor yang sedang dalam perjalanan menuju Jakarta sebagai delegasi Indonesia tanpa sengaja bertemu dengan KSAU Suryadi Suryadarma di dalam kereta yang ditumpanginya. Rencana tersebut diusulkan kepada KSAU untuk mendapatkan tanggapan dan persetujuan setibanya di Stasiun Cikampek.  Sekembalinya dari Jakarta, di Yogyakarta Ir. P.M. Noor segera menulis surat permohonan resmi kepada KSAU untuk menindaklanjuti pembicaraan di dalam kereta.

Permohonan Ir. P.M Noor diterima oleh KSAU Suryadi Suryadarma yang pada saat itu juga tengah mempersiapkan pasukan payung untuk persiapan operas-operasi yang mungkin di butuhkan oleh AURI. Segera setelah persetujuan di sampaikan, dibentuk Staf Khusus untuk Pasukan Payung Republik Indonesia dibawah Komando Panglima Angkatan Udara.

Pasukan Payung diberangkatkan pada tanggal 17 Oktober 1947 menggunakan pesawat RI-002 dengan daerah tujuan Desa Sambi, Kecamatan Kotawaringin, Kalimantan Selatan. Tujuan utama dilaksanakannya penerjunan tersebut adalah untuk membuka kemungkinan hubungan radio Kalimantan-Yogyakarta demi memperlancar komunikasi dan monitoring perjuangan di Kalimantan mengingat pusat pemerintahan pada saat itu berada di Yogyakarta.

Waktu latihan begitu singkat sehingga para peserta hanya mendapatkan ground training (latihan darat) saja.  Menjelang hari-H Pasukan Payung dileksi dan terpilihlah 13 anggota yang sebagian besar adalah putra asli Kalimantan.

Operasi pertama yang berlangsung pada tanggal 17 Oktober 1947 ini, disertai dropping alat-alat perlengkapan dan perbekalan untuk bergerilya di hutan. Prajurit Pasukan Payung sempat terpencar setelah mendarat di hutan belantara Kalimantan. Mereka baru berkumpul pada hari ketiga. Ternyata mereka tidak mendarat di Sepanbiha, tetapi dekat Kampung Sambi, di antara Sungai Seruyan di barat laut Rantau Pulut, Kotawaringin. Tidak semua parasut dapat ditemukan kembali, demikian juga persediaan amunisi, bahan makanan, dan peralatan radio yang mengalami kerusakan. Setelah 35 hari berkelana di hutan Kalimantan, prajurit Pasukan Payung berhasil ditangkap belanda akibat adanya pengkhianatan dari Albert Rosing, seorang Lurah Kampung Mayang, dan beberapa orang Kalimantan.

Pada dini hari tanggal 23 November 1947, ketika orang masih tidur nyenyak, di sebuah ladang tepi Sungai Koleh (anak Sungai Seruyan), mereka dihujani peluru oleh sepasukan tentara Belanda yang menyerang dari 3 jurusan. Akibatnya tiga orang gugur seketika, yaitu Letnan Udara II Anumerta Iskandar, Sersan Mayor Udara Anumerta Achmad Kosasih, dan Kapten Udara Anumerta Hari Hadisumantri. Suyoto tertawan, sedangkan Dachlan yang mengalami luka berat di leher, bersama Bachri, Ali Akbar, Mica Amiruddin dan yang lain sempat meloloskan diri. Dengan tabah, sisa rombongan melanjutkan bergerilya, tetapi pengepungan pasukan NICA begitu ketatnya, sehingga akhirnya dua bulan kemudian mereka semua tertangkap.

Mereka dibawa ke Banjarmasin, dan kemudian ditawan di Penjara Bukitduri, Jakarta. Tidak lama di Jakarta mereka dibawa kembali ke Banjarmasin, setelah itu mereka dikirim lagi ke Jakarta, masuk Penjara Glodok, kemudian dipindah ke Penjara Cipinang, lalu dijebloskan ke Penjara Bukit Batu di Nusa Kambangan. Pada waktu mendekati penandatanganan KMB di Den Haag, Belanda, mereka ditarik kembali ke Glodok dan akhirnya dikembalikan ke Yogya dengan status bebas.

Meskipun tugas operasi Kalimantan itu gagal, tetapi kisah ke-13 prajurit pasukan payung tersebut merupakan suatu peristiwa gemilang. Ini membuktikan bahwa para pejuang kemerdekaan dalam keadaan serba darurat dapat membina kekuatan yang tidak boleh dianggap remeh. Peristiwa inilah yang kemudian diperingati sebagai hari Pasukan Khas Angkatan Udara.

Untuk mengenang dan menghormati kepahlawanan para pelopor penerjunan  payung  yang  telah  mendahului  meninggal  dunia,  maka pimpinan AURI telah memerintahkan kepada FM. Sujoto, J. Bitak dan Dachlan untuk mengadakan ekspedisi ke Kalimantan guna memindahkan makam  ketiga temannya yang telah gugur, ke makam pahlawan Yogyakarta.  Demikianlah pada tanggal 15 Maret 1950 mereka bertolak dari Yogyakarta dan apabila dibandingkan dengan dua setengah tahun yang lalu, maka perjalanan sekarang ini adalah jauh lebih berbeda keadaannya, dimana udara tidak lagi diliputi oleh suasana pertikaian dan permusuhan dengan Belanda. Pada tanggal 14 April 1950 rombongan telah kembali ke Banjarmasin setelah berkeliling untuk mencari jenazah ketiga prajurit. Dari ketiga jenazah yang dicari hanya jenazah Harry Hadisumantri yang dapat ditemukan.

Sesuai dengan tahap yang berlaku maka AURI juga mulai menyusun kembali kekuatannya, setelah selama periode perang kemerdekaan berjuang bergerilya bersama-sama rakyat. Langkah dan usaha yang didasari oleh kesetiaan dan pengabdian kepada nusa dan bangsa telah mempercepat proses konsolidasi dan pembinaan Angkatan Udara, sehingga dengan demikian mempercepat proses pembangunan lebih lanjut yaitu pembentukan dan pembinaan organisasi. Peristiwa Penerjunan yang dilakukan oleh ke tiga belas prajurit AURI tersebut merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan tempur pasukan khas TNI Angkatan Udara. Dan sesuai keputusan MEN/PANGAU No.54 Tahun 1967, tanggal 12 Oktober 1967. Bahwa tanggal 17 Oktober 1947 ditetapkan sebagai hari jadi Komando Pasukan Gerak Cepat (KOPASGAT) yang sekarang dikenal dengan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (KORPASKHAS AU).