Tepat pada 74 tahun
yang lalu, tanggal 27 Oktober 1945 telah diterbangkan pesawat berbendera
Merah-Putih pertama kali Komodor Muda Udara A. Adisutjipto di lapangan terbang
Maguwo Yogyakarta. Adisucipto menerbangkan pesawat cureng milik Jepang yang di
tinggalkan di Indonesia. Sebenarnya lambang yang tergambar di sayap pesawat
tersebut berbentuk lingkaran merah yang melambangkan matahari di bendera Jepang
(Hinomaru), dengan kreatif Adisucipto mewarnai sebagian warna merah itu dengan
warna putih, sehingga menjadi merah-putih yang merupakan lambang negara
Indonesia.
Dokumen Pribadi Penulis
Pada awal kemerdekaan
Indonesia sangat sedikit sekali pesawat yang dimiliki, itupun beberapa
merupakan bekas peninggalan pemerintah Hindia Belanda dan Jepang yang sudah
ditinggalkan dan sebagian sudah tidak berfungsi sama sekali. Pesawat-pesawat
yang kiranya masih layak digunakan di perbaiki sedemikian rupa sehingga bisa
diterbangkan kembali. Opsir Muda Udara I Basir Surya dan Tjarmadi telah berjasa
dalam memperbaiki pesawat Cureng meskipun dengan peralatan seadanya. Begitupun
dengan tenaga penerbang, dimana Adisucipto pada masa itu merupakan satu-satunya
putra Indonesia yang memiliki kualifikasi wing penerbang yaitu Groot
Militaire Brevet dari Sekolah Penerbangan
(Militaire Luchtvaaart Opleiding School), Kalijati, Jawa Barat.
Pesawat cureng tersebut
kemudian menjadi kekuatan Pangkalan
Udara Maguwo yang sekaligus menjadi kekuatan Sekolah Penerbangan yang
dipimpin oleh Agustinus Adisucipto.
Sekolah Penerbangan itu dibuka pada tanggal 15 November 1945. Karena itu
pesawat cureng umumnya hanya diterbangkan oleh para kadet Sekbang.
Pesawat Cureng memiliki
kiprah yang luar biasa selama perjalanan pertama di udara Indonesia Merdeka.
Pesawat Cureng yang asli sekarang disimpan dan diabadikan di Museum Pusat TNI
AU Dirgantara Mandala Yogyakarta. Pesawat tersebut merupakan pesawat Cureng
terakhir dan satu-satunya yang ada di dunia. Bahkan di Jepang sendiri sudah
tidak ada lagi pesawat jenis itu.
Adisucipto wafat dalam
perjalanannya menuju tanah air saat terjadi insiden penembakan pesawat Dakota
VT-CLA yang membawa bantuan obat-obatan. Kini Adisucipto meraih gelar Bapak
Penerbang Indonesia serta gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No.
071/TK/1974 tanggal 9 November 1974.
Peristiwa tersebut
merupakan tonggak awal penerbangan di Indonesia yang mengilhami semangat para
penerus bangsa untuk mengembangkan sekolah penerbang dan membuat pesawat milik
sendiri. Cureng dan Adisucipto adalah Insiparsi bagi para penerbang dikemudian
hari. Bangsa Indonesia banyak berhutang atas prestasinya.
Mantap sekali mbak akhir, lanjutkan !!!
ReplyDeleteJangan lupa share ke temen temennya yaaa
ReplyDelete