Tuesday, 29 October 2019

PENERBANGAN PESAWAT BERBENDERA INDONESIA PERTAMA



Tepat pada 74 tahun yang lalu, tanggal 27 Oktober 1945 telah diterbangkan pesawat berbendera Merah-Putih pertama kali Komodor Muda Udara A. Adisutjipto di lapangan terbang Maguwo Yogyakarta. Adisucipto menerbangkan pesawat cureng milik Jepang yang di tinggalkan di Indonesia. Sebenarnya lambang yang tergambar di sayap pesawat tersebut berbentuk lingkaran merah yang melambangkan matahari di bendera Jepang (Hinomaru), dengan kreatif Adisucipto mewarnai sebagian warna merah itu dengan warna putih, sehingga menjadi merah-putih yang merupakan lambang negara Indonesia.
Dokumen Pribadi Penulis

Pada awal kemerdekaan Indonesia sangat sedikit sekali pesawat yang dimiliki, itupun beberapa merupakan bekas peninggalan pemerintah Hindia Belanda dan Jepang yang sudah ditinggalkan dan sebagian sudah tidak berfungsi sama sekali. Pesawat-pesawat yang kiranya masih layak digunakan di perbaiki sedemikian rupa sehingga bisa diterbangkan kembali. Opsir Muda Udara I Basir Surya dan Tjarmadi telah berjasa dalam memperbaiki pesawat Cureng meskipun dengan peralatan seadanya. Begitupun dengan tenaga penerbang, dimana Adisucipto pada masa itu merupakan satu-satunya putra Indonesia yang memiliki kualifikasi wing penerbang yaitu Groot Militaire  Brevet dari Sekolah Penerbangan (Militaire Luchtvaaart Opleiding School), Kalijati, Jawa Barat.
Pesawat cureng tersebut kemudian menjadi kekuatan Pangkalan  Udara Maguwo yang sekaligus menjadi kekuatan Sekolah Penerbangan yang dipimpin oleh Agustinus Adisucipto.  Sekolah Penerbangan itu dibuka pada tanggal 15 November 1945. Karena itu pesawat cureng umumnya hanya diterbangkan oleh para kadet Sekbang.
Pesawat Cureng memiliki kiprah yang luar biasa selama perjalanan pertama di udara Indonesia Merdeka. Pesawat Cureng yang asli sekarang disimpan dan diabadikan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogyakarta. Pesawat tersebut merupakan pesawat Cureng terakhir dan satu-satunya yang ada di dunia. Bahkan di Jepang sendiri sudah tidak ada lagi pesawat jenis itu.
Adisucipto wafat dalam perjalanannya menuju tanah air saat terjadi insiden penembakan pesawat Dakota VT-CLA yang membawa bantuan obat-obatan. Kini Adisucipto meraih gelar Bapak Penerbang Indonesia serta gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 071/TK/1974 tanggal 9 November 1974.
Peristiwa tersebut merupakan tonggak awal penerbangan di Indonesia yang mengilhami semangat para penerus bangsa untuk mengembangkan sekolah penerbang dan membuat pesawat milik sendiri. Cureng dan Adisucipto adalah Insiparsi bagi para penerbang dikemudian hari. Bangsa Indonesia banyak berhutang atas prestasinya.

2 comments: