OPERASI
LINTAS UDARA PERTAMA DI KALIMANTAN TAHUN 1947
Sejarah terbentuknya TNI Angkatan Udara
bermula dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) hasil siding Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang ke tiga tanggal 23 Agustus 1945. BKR sebagai organisasi yeng menggantikan
kedudukan tentara memiliki fungsi untuk menjaga ketertiban dan keamanan negara.
Pembentukan BKR disesuaikan dengan tugas dan fungsinya di lapangan. Maka
dikenal lah dengan BKR Udara, BKR Laut, BKR Kereta Api, BKR Pos, dan
seterusnya. Dibidang udara dikenal dengan adanya BKR
Udara (BKRO). BKR Udara bertugas merebut pangkalan
udara setempat dari tangan Jepang bersama unsur-unsur pejuang lainnya sehingga
pembentukannya cenderung berada di daerah
pangkalan atau pusat-pusat unsur penerbangan. Organisasi ini berada di bawah KNI setempat sehingga
masing-masing BKR Udara dapat berdiri sendiri.
Organisasi BKR ditingkatkan
menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) seusai Maklumat Pemerintah tanggal 5
Oktober 1945. Sejajar dengan ditingkatkannya BKR menjadi TKR (Tentara Keamanan
Rakyat) maka BKR Udara pun berubah menjadi TKR Udara atau lebih dikenal sebagai
TKR Jawatan Penerbangan. Suryadi Suryadarma dan Sukarnen Martokusumo ditetapkan
sebagai Kepala dan Wakil Kepala Bagian Penerbangan. Tanggungjawab dan wewenang
atas pangkalan udara dan perlengkapannya, pegawai, dan prajurit ditempatkan di
bawah kepala Bagian Penerbangan. Markas TKR Udara berada di Jalan Terban Taman
Nomor 1 Yogyakarta, letaknya berseberangan dengan markas besar Tentara Keamanan
Rakyat (MB TKR).
Sejak 23 Januari 1946 Tentara
Kemanan Rakyat ditingkatkan menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia). Sejalan
dengan perubahan nama tersebut, TKR Udara pun turut berganti nama menjadi TRI
Udara atau TRI Jawatan Penerbangan. Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden No.
6/S.D./1946, tanggal 9 April 1946, TRI Jawatan Penerbangan dirubah lagi menjadi
TRI Angkatan Udara yang kemudian disebut AURI (Angkatan Udara Republik
Indonesia) berikut dengan tanda-tanda
pangkat yang ditetapkan AURI.
Belanda melancarkan agresi
militer yang pertama pada hari Minggu 21 Juli 1947 dengan melakukan pengeboman
di beberapa daerah di Jawa dan Sumatera. Seluruh pangkalan militer terutama
pangkalan udara yang terdapat pesawatnya tidak luput dari sasaran pemboman
pesawat Belanda. Sebagai respon atas tindakan Belanda, AURI segera melancarkan
aksi balasan berupa pengeboman terhadap tangsi-tangsi Belanda yang berkedudukan
di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Serangan balasan dilakukan pada 29 Juli
1947 berhasil memporakporandakan kubu pertahanan dan menurunkan mental Belanda.
Keberhasilan operasi serangan balasan ini sekaligus menjadi kegiatan pertama
dari AURI.
Selain melakukan pemboman di
Semarang, Salatiga, dan Ambarawa, AURI juga melaksanakan beberapa operasi
udara. Operasi udara itu antara lain melakukan Operasi Lintas Udara pada 17
Oktober 1947 di Kalimantan. Ir. P.M. Noor selaku Gubernur Kalimantan tidak
berada di Kalimantan karena keadaan di Kalimantan masih berada di bawah
kekuasaan Belanda.
Ir. Mohamad Noor segera menyusun
rencana untuk membantu perjuangan rakyat Kalimantan melawan Belanda.
Sebelumnya, dalam upaya membebaskan Kalimantan dari penjajahan telah dibentuk
pasukan yang diberi nama MN 1001 yang dikomandani oleh Mayor Tjilik Riwut. Diskusi
antara Gubernur Ir. P.M. Noor dan Komandan Tjilik Riwut menghasilkan kesimpulan
bahwa satu-satunya jalan untuk mengirim pasukan bantuan ke Kalimantan ialah
melalui jalur udara.
Gubernur Ir. P.M. Noor yang
sedang dalam perjalanan menuju Jakarta sebagai delegasi Indonesia tanpa sengaja
bertemu dengan KSAU Suryadi Suryadarma di dalam kereta yang ditumpanginya.
Rencana tersebut diusulkan kepada KSAU untuk mendapatkan tanggapan dan
persetujuan setibanya di Stasiun Cikampek.
Sekembalinya dari Jakarta, di Yogyakarta Ir. P.M. Noor segera menulis
surat permohonan resmi kepada KSAU untuk menindaklanjuti pembicaraan di dalam
kereta.
Permohonan Ir. P.M Noor
diterima oleh KSAU Suryadi Suryadarma yang pada saat itu juga tengah
mempersiapkan pasukan payung untuk persiapan operas-operasi yang mungkin di
butuhkan oleh AURI. Segera setelah persetujuan di sampaikan, dibentuk Staf
Khusus untuk Pasukan Payung Republik Indonesia dibawah Komando Panglima
Angkatan Udara.
Pasukan Payung diberangkatkan
pada tanggal 17 Oktober 1947 menggunakan pesawat RI-002 dengan daerah tujuan
Desa Sambi, Kecamatan Kotawaringin, Kalimantan Selatan. Tujuan utama
dilaksanakannya penerjunan tersebut adalah untuk membuka kemungkinan hubungan
radio Kalimantan-Yogyakarta demi memperlancar komunikasi dan monitoring
perjuangan di Kalimantan mengingat pusat pemerintahan pada saat itu berada di
Yogyakarta.
Waktu latihan begitu singkat
sehingga para peserta hanya mendapatkan ground training (latihan darat)
saja. Menjelang hari-H Pasukan Payung
dileksi dan terpilihlah 13 anggota yang sebagian besar adalah putra asli
Kalimantan.
Operasi pertama yang
berlangsung pada tanggal 17 Oktober 1947 ini, disertai dropping alat-alat
perlengkapan dan perbekalan untuk bergerilya di hutan. Prajurit Pasukan Payung
sempat terpencar setelah mendarat di hutan belantara Kalimantan. Mereka baru
berkumpul pada hari ketiga. Ternyata mereka tidak mendarat di Sepanbiha, tetapi
dekat Kampung Sambi, di antara Sungai Seruyan di barat laut Rantau Pulut,
Kotawaringin. Tidak semua parasut dapat ditemukan kembali, demikian juga
persediaan amunisi, bahan makanan, dan peralatan radio yang mengalami kerusakan.
Setelah 35 hari berkelana di hutan Kalimantan, prajurit Pasukan Payung berhasil
ditangkap belanda akibat adanya pengkhianatan dari Albert Rosing, seorang Lurah
Kampung Mayang, dan beberapa orang Kalimantan.
Pada dini hari tanggal 23
November 1947, ketika orang masih tidur nyenyak, di sebuah ladang tepi Sungai
Koleh (anak Sungai Seruyan), mereka dihujani peluru oleh sepasukan tentara Belanda
yang menyerang dari 3 jurusan. Akibatnya tiga orang gugur seketika, yaitu
Letnan Udara II Anumerta Iskandar, Sersan Mayor Udara Anumerta Achmad Kosasih,
dan Kapten Udara Anumerta Hari Hadisumantri. Suyoto tertawan, sedangkan Dachlan
yang mengalami luka berat di leher, bersama Bachri, Ali Akbar, Mica Amiruddin
dan yang lain sempat meloloskan diri. Dengan tabah, sisa rombongan melanjutkan
bergerilya, tetapi pengepungan pasukan NICA begitu ketatnya, sehingga akhirnya
dua bulan kemudian mereka semua tertangkap.
Mereka dibawa ke Banjarmasin,
dan kemudian ditawan di Penjara Bukitduri, Jakarta. Tidak lama di Jakarta
mereka dibawa kembali ke Banjarmasin, setelah itu mereka dikirim lagi ke
Jakarta, masuk Penjara Glodok, kemudian dipindah ke Penjara Cipinang, lalu
dijebloskan ke Penjara Bukit Batu di Nusa Kambangan. Pada waktu mendekati
penandatanganan KMB di Den Haag, Belanda, mereka ditarik kembali ke Glodok dan
akhirnya dikembalikan ke Yogya dengan status bebas.
Meskipun tugas operasi
Kalimantan itu gagal, tetapi kisah ke-13 prajurit pasukan payung tersebut
merupakan suatu peristiwa gemilang. Ini membuktikan bahwa para pejuang
kemerdekaan dalam keadaan serba darurat dapat membina kekuatan yang tidak boleh
dianggap remeh. Peristiwa inilah yang kemudian diperingati sebagai hari Pasukan
Khas Angkatan Udara.
Untuk mengenang dan
menghormati kepahlawanan para pelopor penerjunan payung
yang telah mendahului
meninggal dunia, maka pimpinan AURI telah memerintahkan kepada
FM. Sujoto, J. Bitak dan Dachlan untuk mengadakan ekspedisi ke Kalimantan guna
memindahkan makam ketiga temannya yang
telah gugur, ke makam pahlawan Yogyakarta.
Demikianlah pada tanggal 15 Maret 1950 mereka bertolak dari Yogyakarta
dan apabila dibandingkan dengan dua setengah tahun yang lalu, maka perjalanan
sekarang ini adalah jauh lebih berbeda keadaannya, dimana udara tidak lagi
diliputi oleh suasana pertikaian dan permusuhan dengan Belanda. Pada tanggal 14
April 1950 rombongan telah kembali ke Banjarmasin setelah berkeliling untuk
mencari jenazah ketiga prajurit. Dari ketiga jenazah yang dicari hanya jenazah
Harry Hadisumantri yang dapat ditemukan.
Sesuai dengan tahap yang berlaku maka AURI juga mulai
menyusun kembali kekuatannya, setelah selama periode perang kemerdekaan berjuang
bergerilya bersama-sama rakyat. Langkah dan usaha yang didasari oleh kesetiaan
dan pengabdian kepada nusa dan bangsa telah mempercepat proses konsolidasi dan
pembinaan Angkatan Udara, sehingga dengan demikian mempercepat proses
pembangunan lebih lanjut yaitu pembentukan dan pembinaan organisasi. Peristiwa
Penerjunan yang dilakukan oleh ke tiga belas prajurit AURI tersebut merupakan
peristiwa yang menandai lahirnya satuan tempur pasukan khas TNI Angkatan Udara.
Dan sesuai keputusan MEN/PANGAU No.54 Tahun 1967, tanggal 12 Oktober 1967.
Bahwa tanggal 17 Oktober 1947 ditetapkan sebagai hari jadi Komando Pasukan Gerak Cepat (KOPASGAT) yang sekarang
dikenal dengan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (KORPASKHAS AU).